Kemiringan


Skripsi!!!

Haruskah aku berhenti?

Entah harus memulai dari mana, aku sudah benarbenar buntu.
Pembimbing?
Aku tahu aku punya dia sebagai pembimbing tapi aku merasa takut untuk menghadap, aku takut akan dimarahi betapa kacaunya diriku.
Tapi aku juga sedih jika memikirkan orang tua yang terus terus membiayaiku, aku juga takut dengan perkataan mereka yang menusuk karna terlalu lama berada pada posisi ini.
Mengingat saat aku telah semangat mengerjakan segala sesuatunya, mengumpulkan niat dari semua arah agar bisa melangkah maju. Hanya saja uang terus-terusan menghalangiku, membuat tembok setinggi langit antara aku dan WISUDA.
Aku frustasi...
Aku menangisi keadaanku...
Selama berbulan-bulan aku tidak melakukan apapun tapi rambutku selalu rontok sebab aku tidak bisa berhenti berfikir. Sekuat apapun aku memaksa otakku, aku tetap buntu.
Ribuan kali telah kufikirkan untuk bekerja tapi ayahku berkata aku tidak boleh mengambil pekerjaan yang mengganggu Skripsiku. Aku tidak bisa melakukan sesuatu yang tidak sesuai izinnya sebab aku meyakini segala sesuatu akan lancar dengan ridhonya.
Lelah...
Aku ingin mengakhiri semuanya.
Aku terlalu takut memikirkan akibat dari bunuh diri sehingga aku hanya bisa memikirkan satu hal.
MENIKAH
Ya... itu adalah pilihan yang sangat memungkinkan untuk dilakukan. Walau pada hakikatnya hatiku sangat menolak, tapi aku harus mau. Dengan menikah semua masalahku akan teratasi. Aku cukup mengabdikan diriku menjadi istri yang baik, aku akan perlakukan dia sebagai tuan dan aku pembantunya. Ya Allah siapkah aku dengan rencana ini?
Aku juga sudah tidak sanggup lagi tinggal dengan orang lain. Menumpang berarti harus siap melakukan pekerjaan rumah dan tentunya hatimu juga harus siap. Tidak, aku tidak suka seperti ini terus. Aku tidak suka bergantung denga orang lain. Aku ingin mandiri tapi kakiku tertlalu berat melangkah.
Jangan mengutang jangan meminjam JANGAN
Itu selalu terngiang-ngiang. Aku akan menjual,memberikan, dan mengusahakan apa saja dariku untuk mendapatkan uang tapi aku sangat sangat membenci berhutang. Aku rela terseok dijalanan asalkan aku tidak meminta dari orang lain. Aku ikhlas tubuhku dihancurkan berkali-kali asalkan hatiku dibiarkan tetap utuh.
Selama kita masih bernafas kesedihan akan terus mendatangimu. Semuanya telah menjadi ketentuan Allah. Bernafas sekali maka satu kesakitan akan mendatangimu hingga puncaknya kamu menarik nafas panjang dan merasakan sakit yang teramat mencekam kemudian kamu hembuskan nafas terakhirmu.
Aku harus selesai untuk menggantikan ayahku yang akan pensiun. Aku harus cepat punya kerja dan sukses untuk bisa melanjutkan hidup keluargaku, membiayai adikku, aku harus menyiapkan uang untuk jaga-jaga kesehatan orang tuaku, aku harus sukses agar bisa mendampingi semua orang yang kucintai tapi yang kulakukan saat ini hanya bisa menghasilkan air mata.

Komentar

Postingan Populer